Dimana ada Pilihan & Keputusan disitu ada Resiko
Sekecil apa pun resiko harus dapat diminimalisirkan atau bahkan dilenyapkan saja. 1% resiko itu tetap saja menjadi suatu resiko, siapa yang kira itu bisa terjadi ?
Walau resiko yang terjadi kemungkinanya kecil tetap saja itu adalah suatu resiko. Peremehan atas resiko bisa menjadi boomerang bagi Anda.
Deadline tes menari hanya tinggal dua hari lagi, saya dan keempat teman saya yang sekelompok ini bingung sekali karena belum betul-betul menguasai tari Payung. Secara de facto saya menjadi ketua, sebagai ketua saya harus mencari solusi yang terbaik bagi teman-teman saya. Apa yang saya dapati dari kelompok ini:
- anggota yang terdiri dari orang-orang yang banyak keperluanya :swt3:
- anggota yang pemalas
- para anggota kecapek’an karena banyak tugas, event SMANSA Fair, kegiatan ekskul, pacaran
dan PR - penilaian nari perindividu bukan kelompok :paleng
Ok, saya memiliki beberapa pilihan:
- Sekarang Latihan : mereka tidak bisa
- Besok latihan(H -1): mereka juga tidak bisa latihan
- Tidak latihan : Mau ditaruh mana muka saya? kelompok lain sudah mahir
- Latihan Sendiri/Mobile : Bisa karena ada video latihanya, tetapi ini bukan cara yang baik karena mengurangi unsur kekompakan, tapi ini yang terbaik pada situasi ini
Sudah saya tetapkan: Latihan Sendiri/Mobile , pilihan yang paling tepat untuk situasi ini. “Pokoknya hari Senin(hari H) kudu bisa semua!!!”.
Kebetulan hari Minggu saya ke sekolah untuk melaksanakan kewajiban saya memberikan pertanggung jawaban atas masa jabatan saya sebagai ketua KIR(Kelompok Ilniah Remaja) pada perpisahan KIR angkatan 2006-2007 kemudian saya lanjutkan memantau anak-anak ekskul SCC(SMANSA Computer Club) karena saya ketuanya.
Sepulang dari kegiatan yang melelahkan tersebut saya cek kelompok saya apakah sudah melaksanakan kewajibanya? upss…. ternyata belum dengan berbagai alasanya tapi hanya satu yang sudah latihan dan bisa. Namanya Siti Supriatini, mungkin saya punya kontak batin denganya karena saya memiliki perhatian penuh kepada orang-orang yang memiliki kekurangan fisik. Karena rumahnya dekat dengan sekolah, saya mampir saja kesana. Ternyata eh ternyata lagi molor
her mom said,”Sitinya lagi tidur habis latihan nari dari tadi pagi”. Yo wess lah aku balik, eh dia malah bangun.
Besok harinya, hari Senin(hari H), saat upacara gadis yang sering diledek oleh anak lelaki sekelasnya dengan sebutan “si X” (tidak termasuk saya
), sakit seperti ingin pingsan, muncul rasa bersalah dari hati saya karena dia terlihat capek—implikasinya pingsan. Seharusnya saya memberi peringatan atas keputusan saya, bahwa “jangan memaksakan diri”.
Upacara usai, ada selang beberapa waktu saya manfaatkan untuk mencatat catatan saya yang tertinggal. Tiba-tiba dari balik pintu kelas,”woi, anak laki-laki tolongin Siti, Siti pingsan!!!” ujar teman saya Wildha dengan keras. Serentak dua anak lelaki didekat Wildha kabur tidak mempedulikanya begitu juga lainnya yang sedang santai dikelas. Spontan saya memukul meja lalu membantu menggotong Siti ketempat yang lebih baik, untung saja ada teman saya Umar turut membantu walau beda kelas tapi tetap kita anak SMANSA(SMAN 1 Serang). Yeiksss
Beres deh semua, saat saya menuju kelas aura “peledekan” dimulai, itu sudah resiko saya membantu teman lalu diledek(aneh masyarakat kita
). Beberapa ada yang beradu lidah,”mengapa anak lelaki yang lain cuek tidak mau membantu malah kabur?” “selalu ada alasan!!”
Anak PMR bercerita kepada saya kalau dia sebenarnya gak cuma pingsan tetapi kesurupan, dalam hati saya dia bukan kesurupan melainkan hanya menjadi seseorang yang tidak mempedulikan orang lain dalam sesaat. Anak PMR ini juga bercerita “dia merepotkan saja” bah!!!! kenapa merepotkan bukankanya itu tanggung jawab mereka? (mungkin dia cuma curhat ajah dan tetap melaksanakan tanggung jawab), niatnya pengen ngeledek malah dianggap bercanda,”itu bukan urusan kalian lagi nanti, nanti gue bikin ekskul paranormal!!”
Seandainya saya mengatakan “jangan memaksakan diri”, pasti semua ini tidak akan terjadi
. Buat Siti dan ibunya Siti maaf ya…
—————
Dari cerita diatas terdapat pesan-pesan dan hikmah:
- Sekecil apa pun resiko tetaplah resiko
- Jangan takut menolong orang karena Anda adalah KEBENARAN. Orang yang dalam suatu KEBENARAN tidak akan pernah SALAH.
- Laksanakan tanggung jawab donk…. narsis mode: ON = seperti saya dalam satu waktu jadi ketua SCC, ketua kelompok & ketua KIR

LuPhKimm hanya seseorang yang ingin mencapai kualitas hidup yang baik. Bukan untuk mencari uang melainkan menjadikan dirinya seseorang yang pantas untuk dibayar—itulah cara hidupnya. 


"Gila Kerennn BANGETT Blog ini!!?!?" Kirimin TIP dong!!! Saya seeh kepengenya Rp 4000 untuk bayar warnet sejam ajah atau terserah Anda... Boleh kan?





