Mahasiswa dan Tradisi Intelektual
Masih banyak di antara kita yang memiliki mindset bahwa mahasiswa S1 dididik untuk menghasilkan tenaga kerja yang profesional. Sebetulnya tidaklah demikian, mahasiswa S1—terutama—dididik untuk mencetak ilmuwan yang mampu melakukan penelitian dan pengkajian untuk memberi kontribusi kepada masyarakat luas. Pengkajian dan penelitian ini merupakan salah satu bentuk dari tradisi intelektual.
Mindset tersebut tanpa disadari menjauhkan mahasiswa untuk meninggalkan fokus utamanya menjadi seorang ilmuwan yanng meneliti dan mengkaji untuk memberi kontribusi kepada masyarakat. Memang tak bisa dibilang sedikit mahasiswa yang terlalu sibuk dengan urusan yang tidak “memahasiswakannya”. Banyak faktor yang mendasarinya seperti institusi dan lingkungan sosial sekitar yang membuyarkan fokus mereka. Namun, tidak sedikit pula mahasiswa yang melakukan kontribusi melalui tradisi intelektual atau pun nonintelektual baik yang terlihat kasat mata ataupun tidak kasat mata untuk berkontribusi kepada masyarakat. Sayangnya jumlah dan kualitas mahasiswa yang menanamkan tradisi intelektual masih sangat sedikit dengan mahasiswa yang tidak.
Tradisi intelektual harus tetap menjadi core dari mahasiswa. Membaca, menulis, meneliti dan berdiskusi. Karena, jiwa mahasiswa yang sesungguhnya adalah INTELEK.
Malulah Anda jika mengenakan almamater kebesaran perguruan tinggi dengan mengatasnamakan “mahasiswa” tapi masih berjiwa “siswa” yang hanya mau diasup ilmunya. Jadilah mahasiswa yang mandiri berjiwa intelek, mencari ilmu dengan mandiri dan memberi asupan berupa kontribusi kepada masyarakat!
Hidup Mahasiswa Indonesia!!!!!!!
LuPhKimm hanya seseorang yang ingin mencapai kualitas hidup yang baik. Bukan untuk mencari uang melainkan menjadikan dirinya seseorang yang pantas untuk dibayar—itulah cara hidupnya. 

